Kamis, 12 November 2015

Adat di Indramayu

Ngarot Adat Istiadat Indramayu

Sebelum tahun 1681, Lelea masuk wilayah kekuasaan kerajaan Sumedang Larang, oleh karena itu bahasa asli penduduk desa Lelea ialah bahasa Sunda. Ngarot adalah salah satu adat istiadat yang ada di desa Lelea Kabupaten Indramayu di lakukan oleh masyarakat Lelea secara turun temurun hingga sekarang dengan tidak terputus putus. Pada awalnya pelaksanaan upacara adat Ngarot  tidak di balai desa akan tetapi di laksanakan di balai adat.
Kata Ngarot dari bahasa Sansekerta berarti Ngaruwat artinya membersihkan diri dari segala noda dan dosa akibat kesalahan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang pada masa lalu. Sedangkan menurut bahasa Sunda kuno Ngarot mempunyai arti minum, oleh pribumi disebut Kasinoman, karena pelakunya para kawula muda ( si enom artinya anak muda ). Jadi Ngarot adalah pesta "minum-minum atau kasinoman" sementara pendapat umum pesta ngarot adalah mencari jodoh, namun penulis membantah bahwa hal tersebut (pendapat umum) itu tidak benar.
Ngarot bermaksud mengumpulkan para muda mudi yang akan diserahi tugas pekerjaan program pembangunan di bidang pertanian sambil menikmati minuman dan hiburan kesenian di balai desa. Acara pertemuan tersebut penuh keakraban dan saling bermaafan bila ada kesalahan diantara mereka. Pada dasarnya yang paling utama dari pertemuan tersebut agar para muda mudi menyadari bahwa tidak lama lagi mereka akan turun ke sawah, bekerja dan mengolah sawah bersama-sama, gotong royong saling bahu membahu secara sukarela, maka acara tersebut dinamakan “durugan”
Ngarot bertujuan untuk membina pergaulan yang sehat, agar para muda mudi saling mengenal, saling menyesuaikan sikap, kehendak dan tingkah laku yang luhur sesuai dengan nilai-nilai budaya nenek moyang. Ngarot adalah suatu metode atau cara untuk menggalang dan memupuk rasa persatuan dan kesatuan dikalangan para muda mudi khususnya dan masyarakat pada umumnya.
Upacara adat Ngarot melibatkan berbagai peserta dan perangkat kegiatan, seperti muda mudi, kepala desa dan isteri paea pamong desa, para wakil lembaga desa, seniman, di iringi beberapa bentuk kesenian tradisional seperti seni topeng, ronggeng ketuk, musik tanjibor dan reog serta sampyong.
Waktu pelaksanaan upacara adat Ngarot secara turun temurun dan jatuh pada hari Rabu wekasan yaitu antara bulan Oktober dan Nopember, dilaksanakan satu kali pada setiap tahunnya selama sehari semalam penuh.Sebelum menentukan hari pelaksanaan upacara Ngarot, sedikitnya dua kali Kepala Desa mengadakan rembuk desa sebagai persiapan pelaksanaan upacara tersebut. Rernbuk desa pertama mengumpulkan para pamong, lembaga desa, seperti LMD, LKMD, PPK dan tokoh masyarakat dan tokoh pemuda untuk menetapkan waktu, hari, dan tanggal pelaksanaan upacara. Setelah ada keputusan, baru diumumkan oleh Kuwu pada waktu upacara sedekah bumi. Rembuk desa kedua mengumpulkan muda mudi calon peserta upacara adat Ngarot untuk menetapkan corak dan warna pakaian para muda mudi dan ketentuan-ketentuan lainnya.
Tata caranya adalah sebagai berikut :
1.   Kuwu menyerahkan benih padi unggul kepada perwakilan pemuda maksudnya agar benih tersebut untuk ditanam atau disebar.
2.   lbu Kuwu (isteri Kepala Desa) memberikan sebuah kendi berisikan air putih bermaksud untuk mengobati tanaman padi yang telah disebar atau ditanam atau sebagai lambang pengairan.
3.   Tua desa menyerahkan pupuk kepada seorang perwakilan pemuda bermaksud agar tanaman tetap subur harus dipupuk.
4.   Raksa bumi menyerahkan alat pertanlan seperti cangkul kepada seorang perwakilan pemuda bermaksud untuk mengola tanah lahan pertanian dengan sempurna.
5.   Lebe menyerahkan sepotong ruas bambu kuning, daun andong, kelaras daun pisang, kepada perwakilan pemuda, bermaksud menghindari agar tanaman terhindar dari serangan hama penyakit dan benda tersebut ditancapkan di pesawahan.


sumber : http://inuyzap.blogspot.co.id/2012/02/ngarot-adat-istiadat-indramayu.html

Sabtu, 21 Maret 2015

Contoh Kebudayaan Yang Ada di Indonesia

1. SEREN TAUN DI JAWA BARAT

Seren Taun adalah upacara adat panen padi masyarakat Sunda yang dilakukan tiap tahun. Upacara ini berlangsung khidmat dan semarak di berbagai desa adat Sunda. Upacara adat sebagai syukuran masyarakat agraris ini diramaikan ribuan masyarakat sekitarnya, bahkan dari beberapa daerah di Jawa Barat dan mancanegara. Beberapa desa adat Sunda yang menggelar Seren Taun tiap tahunnya adalah:
  • Desa CigugurKecamatan CigugurKabupaten KuninganJawa Barat.
  • Kasepuhan Banten Kidul, Desa Ciptagelar, Cisolok, Kabupaten Sukabumi
  • Desa adat Sindang Barang, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor
  • Desa KanekesKabupaten LebakBanten
  • Kampung Naga Kabupaten Tasikmalaya

Bermakna syukur kepada Tuhan itu dikukuhkan pula melalui pembacaan doa yang disampaikan secara bergantian oleh tokoh-tokoh agama yang ada di Indonesia. Selanjutnya, dilaksanakan kegiatan akhir dari Ngajayak, yaitu penyerahan padi hasil panen dari para tokoh kepada masyarakat untuk kemudian ditumbuk bersama-sama. Ribuan orang yang hadir pun akhirnya terlibat dalam kegiatan ini, mengikuti jejak para pemimpin, tokoh masyarakat, maupun rohaniwan yang terlebih dahulu dipersilakan menumbuk padi. Puluhan orang lainnya berebut gabah dari saung bertajuk Pwah Aci Sanghyang Asri (Pohaci Sanghyang Asri).
Dalam upacara Seren Taun dilakukan berbagai keramaian dan pertunjukan kesenian adat. Ritual seren taun itu sendiri mulai berlangsung sejak tangal 18 Rayagung, dimulai dengan pembukaan pameran Dokumentasi Seni dan Komoditi Adat Jabar. Setiap hari dipertunjukkan pencak silat, nyiblung (musik air), kesenian dari Dayak Krimun, Indramayu, suling rando, tarawelet, karinding, dan suling kumbang dari Baduy.


2. BALIMAU DI SUMATERA BARAT


Balimau adalah tradisi mandi menggunakan jeruk nipis yang berkembang di kalangan masyarakat Minangkabau dan biasanya dilakukan pada kawasan tertentu yang memiliki aliran sungai dan tempat pemandian. Diwariskan secara turun temurun, tradisi ini dipercaya telah berlangsung selama berabad-abad.
Latar belakang dari balimau adalah membersihkan diri secara lahir dan batin sebelum memasuki bulan Ramadan, sesuai dengan ajaran agama Islam, yaitu menyucikan diri sebelum menjalankan ibadah puasa. Secara lahir, mensucikan diri adalah mandi yang bersih. Zaman dahulu tidak setiap orang bisa mandi dengan bersih, baik karena tak ada sabun, wilayah yang kekurangan air, atau bahkan karena sibuk bekerja maupun sebab yang lain. Saat itu pengganti sabun di beberapa wilayah di Minangkabau adalah limau (jeruk nipis), karena sifatnya yang melarutkan minyak atau keringat di badan.
Dalam tradisi ini sebetulnya perempuan tidak perlu mandi di sungai agar tidak bercampur dengan lelaki, tetapi bisa di sumur umum. Namun dalam perkembangan selanjutnya kebiasaan ini kemudian berkembang di masyarakat secara tak agamis lagi. Mandi bersama dilakukan di sungai dengan alasan untuk berekreasi sehingga bercampur antara lelaki dan perempuan. Kebiasaan baru inilah yang bertentangan dengan agama Islam, sedangkan pada dasarnya tradisi balimau tidak demikian.


3. DUGDERAN DI SEMARANG
Dugderan merupakan festival untuk menandai dimulainya ibadah puasa di bulan Ramadan yang diadakan di Kota Semarang. Perayaan yng telah dimulai sejak masa kolonial ini dipusatkan di daerah Simpang Lima. Perayaan dibuka oleh wali kota dan dimeriahkan oleh sejumlah mercon dan kembang api (nama "dugderan" merupakan onomatope dari suara letusan).
Pada perayaan ini beragam barang dijual (semacam pasar malam) dan pada masa kini sering diikutkan berbagai sponsor dari sejumlah industri besar. Meskipun demikian, ada satu mainan yang selalu terkait dengan festival ini, yang dinamakan "warak ngendok". Dugderan dimaksudkan selain sebagai sarana hiburan juga sebagai sarana dakwah Islam.

Sumber : 
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Seren_Taun
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Balimau
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Dugderan


Senin, 30 Juni 2014

Tugas Softskill

                Karakteristik Responden
                Data responden dilakukan oleh penulis dari penelitian ini adalah sebanyak 30 responden. Data mengenai karakteristik responden sebagai berikut:
a.       Profil Responden Berdasarkan Usia
Untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut ini:
Tabel 3.1 Profil Responden Berdasarkan Usia
Usia
Jumlah Responden
Persentase %
20 Tahun
10
33,33%
21 Tahun
12
40%
22 Tahun
4
13,33%
>= 23 Tahun
4
13,33%
Jumlah
30
100%



Berdasarkan tabel 3.1 dapat diketahui bahwa responden yang berusia 20 tahun berjumlah 10 orang atau sebesar 33,33%, 21 tahun berjumlah 12 orang atau sebesar 40%, 22 tahun berjumlah 4 orang atau sebesar 13,33%, diatas sama dengan 23 tahun berjumlah 4 orang atau sebesar 13,33%. Jadi dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden dalam penelitian ini berusia 21 tahun.   

b.      Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 3.2 berikut ini:
Tabel 3.2 Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
Jumlah Responden
Persentase %
Pria
17
56,66%
Wanita
13
43,33%
Jumlah
30
100%

                Berdasarkan tabel 3.2 dapat diketahui bahwa data yang diperoleh melalui kuesioner yang diisi oleh responden menunjukan responden yang berjenis kelamin pria sebesar 56,66%, dan responden yang berjenis kelamin wanita sebesar 43,33% oleh karena itu dapat disimpulkan mayoritas responden dalam penelitian ini adalah pria.

c.       Profil Responden Berdasarkan Banyaknya Pengguna Handphone Selular
Untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan banyaknya Handphone selular dapat dilihat pada tabel 3.3 berikut ini:
Tabel 3.3 Profil Responden Berdasarkan Banyaknya Pengguna Handphone Selular
Banyaknya Pengguna Handphone selular
Jumlah Responden
Persentase %
1
14
46,66%
2
12
40%
>2
2
6,66%
Tidak Punya
1
3,33%
Jumlah
30
100%

                Berdasarkan tabel 3.3 dapat diketahui bahwa responden yang mempunyai 1 Handphone selular sebesar 46,66%, 2 Handphone selular sebesar 40%, diatas 2 Handphone selular sebesar 6,66%, dan yang tidak mempunyai Handphone selular sebesar 3,33%. Jadi dapat disimpulkan bahwa responden yang paling banyak mempunyai kartu debit yaitu berjumlah 1 Handphone selular perorangnya.

d.      Profil Responden Berdasarkan Banyak Transaksi pada M-Banking
Untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan banyak transaksi pada M-Banking dapat dilihat pada tabel 3.5 berikut ini:
Tabel 3.5 Profil Responden Berdasarkan Banyak Transaksi pada M-Banking
Banyak Transaksi pada M-Banking
Jumlah Responden
Persentase %
1x
7
23,33%
1x – 3x
11
36,66%
> 3x
10
33,33%
Tidak sama sekali
2
6,66%
Jumlah
30
100%
                Berdasarkan tabel 3.5 dapat diketahui bahwa responden yang melakukan transaksi sebanyak 1x sebesar 23,33%, diantara 1x – 3x sebesar 36,66%, diatas 3x sebesar 33,33%, dan yang tidak melakukan transaksi sama sekali sebesar 6,66%. Jadi dapat disimpulkan bahwa yang paling banyak melakukan proses transaksi pada M-Banking yaitu sebesar 36,66% yang melakukannya diantara 1x – 3x proses transaksi.

e.      Profil Responden Berdasarkan Tahu / Tidaknya Tentang M-Banking
Untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan tahu / tidaknya tentang M-Banking yang  dapat dilihat pada tabel 3.6 berikut ini:
Tabel 3.6 Profil Responden Berdasarkan Tahu / Tidaknya Tentang M-Banking
Tahu / Tidak Tentang M-Banking
Jumlah Responden
Persentase %
Ya
4
13,33%
Tidak
26
86,66%
Jumlah
30
100%
               
                Berdasarkan tabel 3.6 dapat diketahui bahwa responden yang mengetahui tentang M-Banking masih sedikit yaitu dengan persentase 13,33% sedangkan yang belum tahu tentang M-Banking cukup besar yaitu dengan persentase 86,66%. Jadi dapat disimpulkan bahwa responden kebanyakan belum begitu tahu tentang M-Banking, hal tersebut wajar karena M-Banking digunakan untuk kalangan atas.

3.2          Analisa Responden sebagaimana akan menjadi pengguna M-Banking dengan pedekatan Technology Acceptance Model (TAM) pada Masyarakat
                Pada bagian ini akan diuraikan data tanggapan 30 Masyarakat dengan pendekatan Technology Acceptance Model (TAM). Untuk mendapatkan gambaran responden mengenai M-Banking secara menyeluruh, dilakukan rekapiltulasi jumlah skor tanggapan responden berdasarkan indikator pada tabel berikut:
Tabel 3.7 Rekapitulasi Skor Jawaban Responden Mengenai M-Banking dengan Pendekatan Technology Acceptance Model (TAM)
No
Indikator
Skor Aktual
Skor Ideal
%
Kategori
1
Perceived usefulness
465
600
77,5%
Setuju
2
Perceived ease of use
311
450
69,11%
Setuju
3
Attitude toward using
418
600
69,67%
Setuju
4
Actual  usage
204
300
68%
Ragu-ragu
Total
1398
1950
71,69%
Setuju
Perhitungan: Skor Ideal = Jumlah Pertanyaan * Nilai Tertinggi * Jumlah Responden


Berdasarkan persentase total skor tanggapan responden maka dapat disimpulkan bahwa respon masyarakat terhadap kemunculan M-Banking dengan pendekatan Technology Acceptance Model (TAM) termasuk dalam kategori setuju.
Dilihat dari dimensi perceived usefulness (persepsi kemanfaatan) adalah suatu tingkatan yang dipercaya bahwa suatu teknologi akan mendatangkan manfaat bagi orang yang menggunakannya, dikategorikan setuju. Dalam hal ini teknologi yang digunakan yaitu suatu E-Banking  masa depan atau biasa dikatakan dengan M-Banking.
Dilihat dari dimensi perceived ease of use  (persepsi kemudahan pengguna) adalah suatu tingkatan yang dipercaya bahwa suatu komputer dipercaya akan selalu mudah untuk dipelajari dan digunakan, dikategorikan setuju.
Dilihat dari dimensi attitude toward using adalah suatu tingkatan sebagai  sikap  terhadap  penggunaan sistem yang berbentuk penerimaan atau penolakan sebagai dampak bila seseorang menggunakan suatu teknologi dalam pekerjaannya, dikategorikan setuju yang berarti berbentuk penerimaan.
Dilihat dari dimensi actual  usage adalah suatu tingkatan sebagai bentuk respon psikomotor eksternal yang diukur oleh seseorang dengan penggunaan nyata, dikategorikan ragu-ragu.
Berikut diuraikan hasil tanggapan responden mengenai M-Banking dengan pendekatan Technology Acceptance Model (TAM) pada masyarakat berdasarkan tiap indikator di atas:
1.       Perceived Usefulness
Perceived usefulness diukur menggunakan tanggapan responden pada pertanyaan yang dapat dilihat pada tabel 3.8 berikut ini:
Tabel 3.8 Distribusi Jawaban Responden Mengenai M-Banking Menggunakan Ukuran Perceived usefulness
No
Butir Kuesioner
Skor Jawaban Responden
Jumlah Skor
1
2
3
4
5
1
M-Banking akan meningkatkan efektifitas pelayanan kegiatan perbankan
F
0
0
0
30
0
120
%
0
0
0
100
0
100%
2
M-Banking akan meningkatkan kinerja pelanan kegiatan perbankan
F
0
0
6
24
0
114
%
0
0
20
80
0
100%
3
M-Banking akan meningkatkan produktifitas dalam pelayanan kegiatan perbankan
F
0
0
6
24
0
114
%
0
0
20
80
0
100%
4
Menurut saya M-Banking akan sangat bermanfaat
F
0
0
4
25
1
117
%
0
0
13,33
83,33
3,34
100%
Total
F
0
0
16
103
1
465
Persentase Total Skor Jawaban Responden = 77,5%
Keterangan:
F = Jumlah Responden                  3 = Ragu-ragu
1 = Sangan Tidak Setuju                4 = Setuju
2 = Tidak Setuju                                                5 = Sangat Setuju

                Berdasarkan jumlah skor jawaban responden pada tabel 3.8 diatas, selanjutnya ditetapkan tingkat kategori persentase skor tanggapan responden terhadap skor ideal menggunakan rumus sebagai berikut:
% skor tanggapan responden = (465/4*5*30) * 100% 
% skor tanggapan responden = (465/600) * 100%
% skor tanggapan responden = 77,5%
                Persentase total skor tanggapan responden atas indikator 77,5%, bila merujuk pada tabel 3.8 termasuk dalam kategori setuju.

2.       Perceived Ease of Use
Perceived ease of use diukur menggunakan tanggapan responden pada pertanyaan yang dapat dilihat pada tabel 3.9 berikut ini:
Tabel 3.9 Distribusi Jawaban Responden Mengenai M-Banking Menggunakan Ukuran Perceived Ease of Use
No
Butir Kuesioner
Skor Jawaban Responden
Jumlah Skor
1
2
3
4
5
1
M-Banking akan mudah dipelajari dan digunakan
F
0
1
15
14
0
103
%
0
3,33
50
46,67
0
100%
2
M-Banking akan fleksibel
F
0
0
19
11
0
101
%
0
0
63,33
36,67
0
100%
3
M-Banking akan dapat mengontrol proses administrasi perbankan
F
0
2
9
19
0
107
%
0
6,67
30
63,33
0
100%
Total
F
0
3
43
44
0
311
Persentase Total Skor Jawaban Responden = 69,11%
Keterangan:
F = Jumlah Responden                  3 = Ragu-ragu
1 = Sangan Tidak Setuju                4 = Setuju
2 = Tidak Setuju                                                5 = Sangat Setuju

                Berdasarkan jumlah skor jawaban responden pada tabel 3.9 diatas, selanjutnya ditetapkan tingkat kategori persentase skor tanggapan responden terhadap skor ideal menggunakan rumus sebagai berikut:
% skor tanggapan responden = (311/3*5*30) * 100% 
% skor tanggapan responden = (311/450) * 100%
% skor tanggapan responden = 69,11%
                Persentase total skor tanggapan responden atas indikator 69,11%, bila merujuk pada tabel 3.9 termasuk dalam kategori setuju.

3.       Attitude Toward Using
Attitude toward using diukur menggunakan tanggapan responden pada pertanyaan yang dapat dilihat pada tabel 3.10 berikut ini:
Tabel 3.10 Distribusi Jawaban Responden Mengenai M-Banking Menggunakan Ukuran Attitude Toward Using
No
Butir Kuesioner
Skor Jawaban Responden
Jumlah Skor
1
2
3
4
5
1
Saya menyukai menggunakan M-Banking
F
0
2
20
8
0
96
%
0
6,67
66,67
26,66
0
100%
2
Menggunakan M-Banking adalah ide yang bagus
F
0
1
10
18
1
109
%
0
3,33
33,34
60
3,33
100%
3
Menggunakan M-Banking adalah ide yang bijaksana
F
0
1
16
13
0
102
%
0
3,33
53,34
43,33
0
100%
4
Penggunaan M-Banking dinilai perlu
F
0
1
8
20
1
111
%
0
3,33
26,67
66,67
3,33
100%
Total
F
0
5
54
59
2
418
Persentase Total Skor Jawaban Responden = 69,67%
Keterangan:
F = Jumlah Responden                  3 = Ragu-ragu
1 = Sangan Tidak Setuju                4 = Setuju
2 = Tidak Setuju                                                5 = Sangat Setuju
                Berdasarkan jumlah skor jawaban responden pada tabel 3.10 diatas, selanjutnya ditetapkan tingkat kategori persentase skor tanggapan responden terhadap skor ideal menggunakan rumus sebagai berikut:
% skor tanggapan responden = (418/4*5*30) * 100% 
% skor tanggapan responden = (418/600) * 100%
% skor tanggapan responden = 69,67%
                Persentase total skor tanggapan responden atas indikator 69,67%, bila merujuk pada tabel 3.10 termasuk dalam kategori setuju.

4.       Actual Use
Actual usage diukur menggunakan tanggapan responden pada pertanyaan yang dapat dilihat pada tabel 3.11 berikut ini:
Tabel 3.11 Distribusi Jawaban Responden Mengenai M-Banking Menggunakan Ukuran Actual Usage
No
Butir Kuesioner
Skor Jawaban Responden
Jumlah Skor
1
2
3
4
5
1
Saya berniat menggunakan M-Banking
F
0
1
17
12
0
101
%
0
3,33
56,67
40
0
100%
2
Saya berniat akan menggunakan M-Banking lebih sering dari mendatangi langsung bank untuk melakukan proses transaksi
F
0
1
16
12
1
103
%
0
3,33
53,34
40
3,33
100%
Total
F
0
2
33
24
1
204
Persentase Total Skor Jawaban Responden = 68%
Keterangan:
F = Jumlah Responden                  3 = Ragu-ragu
1 = Sangan Tidak Setuju                4 = Setuju
2 = Tidak Setuju                                                5 = Sangat Setuju

                Berdasarkan jumlah skor jawaban responden pada tabel 3.11 diatas, selanjutnya ditetapkan tingkat kategori persentase skor tanggapan responden terhadap skor ideal menggunakan rumus sebagai berikut:
% skor tanggapan responden = (204/2*5*30) * 100% 
% skor tanggapan responden = (204/300) * 100%
% skor tanggapan responden = 68%

                Persentase total skor tanggapan responden atas indikator 68%, bila merujuk pada tabel 3.11 termasuk dalam kategori ragu-ragu.